Silaturahmi dengan Sri Eko Sriyanto Galgendu, Bahas Kepemimpinan Spiritual, Falsafah Jawa, dan Masa Depan Bangsa

JAKARTA, SuaraPers.com – Aktivis sekaligus pemerhati budaya melakukan silaturahmi dengan Sri Eko Sriyanto Galgendu, yang dikenal sebagai tokoh spiritual dan budayawan. Pertemuan tersebut menjadi ajang diskusi mendalam mengenai nilai-nilai kepemimpinan spiritual, filosofi budaya Jawa, serta pentingnya membangun harmoni antara agama, budaya, dan kehidupan berbangsa.

 

Silaturahmi ini juga menjadi momen reuni setelah keduanya terakhir kali bertemu pada tahun 2011 di lingkungan Pura Mangkunegaran, Surakarta. Pertemuan kembali tersebut disebut sebagai bagian dari semangat bersama untuk menjaga keselarasan budaya dan spiritualitas demi membangun generasi Indonesia yang lebih baik di masa depan.

 

Dalam perbincangan itu, Sri Eko Sriyanto Galgendu menyampaikan pandangannya mengenai filosofi kepemimpinan dalam tradisi Jawa. Ia menjelaskan bahwa tokoh Joyo Pangrawit di lingkungan Mangkunegaran dipahami sebagai sosok yang mengatur strategi peperangan, di mana susunan gamelan tidak hanya dimaknai sebagai kesenian, tetapi juga mengandung simbol pengaturan strategi, keteraturan, serta pembagian peran dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

 

Menurutnya, filosofi tersebut mengajarkan bahwa setiap unsur memiliki fungsi dan nilai masing-masing sehingga mampu menciptakan harmoni dalam sebuah kepemimpinan.

 

Diskusi juga menyinggung makna spiritual dari perjalanan Kanjeng Sunan Kalijaga saat berguru kepada Sunan Bonang. Dalam pandangan yang disampaikan Sri Eko Sriyanto Galgendu, kisah tersebut mengandung pesan agar seorang pemimpin mampu memahami makna “menjaga sungai”, yakni menjaga keseimbangan antara hulu dan hilir sebagai simbol keteraturan kehidupan.

 

Ia mengibaratkan sungai sebagai representasi perjalanan bangsa. Hulu dan hilir harus dipersatukan melalui tata aturan yang seimbang, mencakup hubungan antara politik, ekonomi, negara, dan nilai-nilai keagamaan. Seorang pemimpin, menurutnya, harus mampu menjadi pengatur sebagaimana bendungan yang mengendalikan arus air, menjaga keseimbangan alam, sekaligus melindungi seluruh ekosistem yang hidup di dalamnya.

 

Dalam kesempatan tersebut, Sri Eko Sriyanto Galgendu juga mengulas konsep kepemimpinan spiritual Indonesia melalui ajaran Jawa “Urip sakdurunge mati lan mati sakdurunge urip”. Filosofi tersebut dimaknai sebagai ajakan untuk mengendalikan hawa nafsu dan kepentingan duniawi sebelum seseorang benar-benar meninggalkan kehidupan.

 

Ia menegaskan bahwa seorang pemimpin harus mampu “nglenggono”, yakni melepaskan keterikatan terhadap kepentingan pribadi demi mengutamakan kemaslahatan masyarakat. Dengan demikian, kepemimpinan tidak hanya berorientasi pada kekuasaan, tetapi juga pada pengabdian untuk membangun kejayaan bangsa serta mempersiapkan generasi penerus yang berkarakter.

 

Dalam pandangannya, kehidupan berbangsa saat ini memerlukan keseimbangan antara kepemimpinan negara dan kepemimpinan spiritual. Keduanya dinilai memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjaga arah perjalanan bangsa.

 

Sei Eko Sriyanto Galgendu juga menyampaikan penafsiran mengenai istilah “Sabdo Palon Noyo Genggong, yang menurutnya mengandung makna “sabda” sebagai ucapan luhur, “palon” sebagai landasan yang kokoh, “noyo” sebagai jiwa yang hidup dalam hati, dan “genggong” sebagai simbol kelanggengan. Penafsiran tersebut merupakan bagian dari pandangan budaya dan spiritual yang berkembang dalam tradisi Jawa.

 

Selain itu, ia menekankan pentingnya menghadirkan sosok pemimpin yang berjiwa kesatria, yakni berani berada di garis depan ketika menghadapi persoalan, memiliki rasa tanggung jawab, serta memiliki rasa malu ketika tidak mampu menjalankan amanah dengan baik.

 

Di akhir pertemuan, Sri Eko Sriyanto Galgendu memberikan “suwuk” yang dimaknai sebagai doa, penguatan batin, serta dorongan spiritual agar terus melangkah dengan kesadaran, pengertian, dan niat untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

 

Silaturahmi tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat nilai “tepa selira”, menjaga keharmonisan agama dan budaya, serta menumbuhkan semangat “Jaya Binangun”, yakni membangun kejayaan bangsa Indonesia yang berlandaskan kearifan lokal, persatuan, dan nilai-nilai luhur bagi generasi mendatang. (Bang_Bro)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *