Jakarta, SuaraPers.com – Aktivis budaya dan tokoh masyarakat, Agus Mujayanto, melakukan silaturahmi dengan Kepala Pusat Zeni TNI Angkatan Darat (Kapusziad), Mayjen TNI Budi Hariswanto, S,Sos. Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat tersebut menjadi ajang bertukar pandangan mengenai filosofi kepemimpinan, nilai-nilai budaya Jawa, serta pentingnya moral dan keteladanan dalam menjalankan amanah sebagai seorang pemimpin.
Dalam perbincangan tersebut, keduanya membahas konsep kepemimpinan yang dikenal dalam falsafah Jawa, yakni perbedaan antara seseorang yang kedunungan drajat dan kedunungan pangkat. Drajat dipahami sebagai kemuliaan atau karisma yang dianugerahkan kepada seseorang, sedangkan pangkat merupakan kedudukan yang diraih melalui proses perjuangan, dedikasi, dan pengabdian.
Dalam pandangan Agus Mujayanto, tidak semua orang yang memiliki pangkat otomatis memiliki drajat atau kewibawaan. Ketika seseorang hanya memiliki pangkat tanpa dibarengi drajat, pengabdiannya kepada masyarakat kerap terbatas pada pelaksanaan tugas formal semata. Sebaliknya, seseorang yang memiliki drajat meski tidak menduduki jabatan apa pun tetap akan memperoleh penghormatan dari masyarakat. Dalam pandangan budaya Jawa, sosok seperti itu dikenal memiliki katuranggan atau kawibawan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa keselarasan antara drajat dan pangkat akan tercapai ketika seseorang berada pada titik kawahyon, yakni momentum ketika karakter, kapasitas, amanah, dan waktu berpadu secara selaras sehingga melahirkan kepemimpinan yang membawa manfaat luas bagi masyarakat.
Diskusi juga mengulas falsafah Jawa tentang perjalanan hubungan antar manusia yang dikenal dengan istilah tepung, srawung, lan dunung. Tepung dimaknai sebagai proses saling mengenal, srawung sebagai tahapan membangun interaksi dan kebersamaan, sedangkan dunung merupakan proses memahami makna dari perjalanan persahabatan, pengalaman, serta hikmah yang diperoleh dari setiap pertemuan.
Bagi Agus Mujayanto, pertemuan tersebut menjadi ruang pembelajaran yang sangat bernilai. Ia menilai pemikiran yang disampaikan Mayjen TNI Budi Hariswanto memberikan perspektif bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya diukur dari jabatan yang disandang, tetapi juga dari karakter, integritas, dan kemampuan menjadi teladan bagi lingkungan sekitar.
Mayjen TNI Budi Hariswanto merupakan putra daerah kelahiran Madiun, Jawa Timur, 8 Maret 1970. Lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1992 ini memiliki rekam jejak karier yang panjang dan cemerlang di lingkungan TNI Angkatan Darat.
Sepanjang kariernya, ia dipercaya menduduki berbagai jabatan strategis, di antaranya Kasi Intel Korem 081/Dhirotsaha Jaya, Dandeninteldam V/Brawijaya, Dandim 0832/Surabaya Selatan, Asintel Kasdam IX/Udayana, Danrem 064/Maulana Yusuf, Kasrem 043/Garuda Hitam, Waasintel KSAD Bidang Inteltek dan Hublu, hingga Dosen Ahli Bidang Strategi Sesko TNI pada periode 2023–2024. Berbekal pengalaman tersebut, kini Mayjen TNI Budi Hariswanto dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Pusat Zeni TNI Angkatan Darat (Kapusziad).
Dalam kesempatan tersebut, Mayjen TNI Budi Hariswanto menegaskan bahwa seorang pemimpin harus mengedepankan rasa keadilan, menjunjung tinggi etika, moral, dan attitude dalam setiap tindakan maupun pengambilan keputusan. Menurutnya, kesadaran diri merupakan fondasi utama dalam kepemimpinan, karena dari kesadaran itulah lahir keteladanan yang mampu menginspirasi dan memberikan pengaruh positif bagi masyarakat maupun organisasi.
“Pemimpin yang baik bukan hanya mampu memimpin melalui kewenangan yang dimilikinya, tetapi juga melalui keteladanan, keadilan, serta integritas yang tercermin dalam setiap sikap dan perbuatannya,”. Ujar Mayjen Budi Hariswanto.
Silaturahmi antara Agus Mujayanto dan Mayjen TNI Budi Hariswanto pun menjadi momentum mempererat hubungan sekaligus memperkaya wawasan mengenai kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai budaya, moral, dan pengabdian, sebagai bekal dalam membangun masyarakat yang lebih berkarakter dan berkeadaban. (Bang_Bro)












