Senin, 26 Okt 2026

“Ojo Gumunan, Ojo Gampang Kepincut”: Nasihat Mbah Yai Turaichan Jadi Alarm Moral bagi Pemimpin Publik

KuduS, Suarapers.com – Nasihat “Ojo gumunan, ojo gampang kepincut” (jangan mudah heran dan jangan gampang tergiur) yang diwariskan KH. Turaichan Adjhuri Asy-Syarofi kembali relevan di tengah tantangan kepemimpinan publik dan birokrasi modern. Pesan ulama kharismatik asal Kudus Kulon tersebut mengingatkan bahwa kekuasaan harus dijalankan dengan kehati-hatian, integritas, serta keberanian untuk tetap berpegang pada prinsip kebenaran.

 

KH. Turaichan Adjhuri Asy-Syarofi, yang wafat pada 20 Agustus 1999, dikenal sebagai ulama ahli falak yang tegas, teguh pendirian, dan berani menyuarakan kebenaran. Pemikiran serta nasihatnya tidak sekadar menjadi catatan sejarah, tetapi juga menyimpan pelajaran penting bagi siapa pun yang mengemban amanah, terutama para pemimpin dan pejabat publik.

 

Salah satu pesan yang kerap beliau sampaikan dalam pidato adalah pentingnya menimbang setiap persoalan dengan ukuran yang benar. Prinsip tersebut tercermin dalam firman Allah SWT:

 

وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ

 

Artinya: “Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan timbangan yang benar.” (QS. Al-Isra’: 35).

 

Pesan tersebut mengandung makna mendalam tentang keadilan, ketelitian, dan tanggung jawab dalam setiap tindakan. Dalam konteks pemerintahan, prinsip itu menjadi pengingat bahwa setiap kebijakan, regulasi, maupun keputusan anggaran harus dipertimbangkan secara matang berdasarkan hukum, etika, dan kepentingan masyarakat luas.

 

Kekuasaan Harus Ditimbang dengan Keadilan

 

Di ruang-ruang birokrasi, keputusan seorang pejabat publik dapat menentukan nasib banyak orang. Karena itu, setiap kebijakan tidak semestinya lahir hanya karena dorongan kepentingan politik, tekanan kelompok tertentu, atau keinginan mengejar popularitas.

 

Setiap keputusan perlu diuji secara menyeluruh: apakah benar-benar membawa kemaslahatan bagi masyarakat, atau justru berpotensi menimbulkan kerugian sosial, ketidakadilan, dan persoalan baru di kemudian hari?

 

Semangat kehati-hatian atau wara’ yang diajarkan Mbah Yai Turaichan menjadi relevan dalam menjawab persoalan tersebut. Kekuasaan, kecerdasan, dan kewenangan tidak cukup apabila tidak disertai kendali moral. Tanpa prinsip yang kuat, kebijakan yang tampak menjanjikan sekalipun berisiko kehilangan arah dan menjauh dari kepentingan publik.

 

Jangan Silau oleh Tren dan Godaan Kekuasaan

 

Nasihat “Ojo gumunan, ojo gampang kepincut” mengandung dua peringatan penting bagi para pemimpin.

 

Pertama, jangan mudah terpesona oleh sesuatu yang tampak hebat di permukaan. Dalam kehidupan modern, pejabat publik kerap dihadapkan pada berbagai gagasan, model tata kelola, proyek besar, dan tren pembangunan yang terlihat menarik. Namun, tidak semua hal yang populer atau berhasil di tempat lain otomatis sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

 

Setiap gagasan perlu dikaji secara kritis, dengan mempertimbangkan kondisi sosial, budaya, kemampuan anggaran, serta manfaat nyata bagi rakyat. Kemajuan tidak semestinya hanya diukur dari kemegahan proyek atau keberhasilan membangun citra, tetapi juga dari dampak yang dirasakan masyarakat.

 

Kedua, jangan mudah tergiur oleh keuntungan pribadi maupun kepentingan sesaat. Jabatan dan kewenangan selalu menuntut tanggung jawab besar. Godaan berupa fasilitas, lobi kepentingan, keuntungan material, hingga konflik kepentingan dapat menguji keteguhan seseorang dalam memegang amanah.

 

Ketika integritas melemah, keputusan yang seharusnya berpihak pada masyarakat berisiko bergeser untuk memenuhi kepentingan kelompok tertentu. Hukum pun berpotensi kehilangan fungsi utamanya sebagai pelindung keadilan.

 

Karena itu, pesan Mbah Yai Turaichan bukan sekadar nasihat tentang sikap pribadi, melainkan juga prinsip untuk menjaga independensi, mengendalikan kepentingan diri, dan memastikan bahwa kewenangan digunakan secara bertanggung jawab.

 

Menolak Kerusakan, Mengutamakan Kemaslahatan

 

Dalam tradisi pemikiran Islam, terdapat kaidah *dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih*, yang secara umum bermakna mendahulukan pencegahan kerusakan daripada meraih kemaslahatan.

 

Kaidah ini dapat menjadi salah satu pertimbangan etis dalam penyelenggaraan pemerintahan. Sebuah program tidak cukup dinilai dari potensi keuntungan atau pertumbuhan yang dijanjikan. Risiko, dampak terhadap masyarakat, keberlanjutan, dan kemungkinan timbulnya kerugian juga harus diperhitungkan.

 

Dengan demikian, kehati-hatian bukan berarti menolak perubahan atau menghambat pembangunan. Sebaliknya, kehati-hatian merupakan upaya memastikan bahwa perubahan berjalan dengan pertimbangan yang matang, dasar hukum yang jelas, dan orientasi pada kepentingan masyarakat.

 

Di tengah derasnya arus informasi digital, tuntutan untuk bersikap kritis menjadi semakin penting. Keputusan yang terburu-buru, mudah terpengaruh opini, atau hanya mengejar popularitas dapat membawa konsekuensi panjang. Pemimpin membutuhkan kemampuan memilah informasi sekaligus keteguhan untuk tidak mudah terseret arus.

 

Keteladanan yang Perlu Dihidupkan Kembali

 

Salah satu pelajaran penting dari sosok Mbah Yai Turaichan adalah keberanian menjaga prinsip. Ketegasan tidak harus diwujudkan melalui kata-kata keras, tetapi melalui konsistensi dalam membela kebenaran, menegakkan aturan, dan mempertimbangkan akibat dari setiap keputusan.

 

Keteladanan semacam ini penting bagi kehidupan publik yang membutuhkan kepercayaan masyarakat. Pemimpin dituntut mampu menjaga jarak dari kepentingan yang berpotensi mengganggu objektivitas, bersikap terbuka terhadap kritik, serta berani menolak keputusan yang bertentangan dengan hukum dan rasa keadilan.

 

Ketika nasihat langsung dari para ulama dan tokoh teladan tidak lagi hadir dalam ruang pengambilan keputusan, tanggung jawab menjaga integritas harus tumbuh dari kesadaran setiap individu. Prinsip ojo gumunan, ojo gampang kepincut perlu diterjemahkan menjadi pengendalian diri, kehati-hatian, dan kesediaan mempertanggungjawabkan setiap keputusan.

 

Sebab, setiap kebijakan bukan hanya meninggalkan dampak bagi masyarakat, tetapi juga mengandung pertanggungjawaban moral di hadapan sesama manusia dan Tuhan.

 

Warisan yang Melampaui Zaman

 

Pada akhirnya, warisan Mbah Yai Turaichan Adjhuri Asy-Syarofi tidak semestinya berhenti sebagai kenangan terhadap seorang ulama besar dari Kudus Kulon. Nasihatnya merupakan pengingat bahwa kekuasaan tanpa integritas mudah kehilangan arah, sedangkan kecerdasan tanpa kebijaksanaan dapat melahirkan keputusan yang merugikan.

 

Menimbang setiap urusan dengan al-qisthas al-mustaqim, yakni timbangan yang lurus dan benar, menjadi prinsip penting untuk menjaga keadilan dan kehormatan kepemimpinan.

 

Meneladani Mbah Yai Turaichan berarti membangun keberanian untuk tidak mudah silau, tidak gampang tergiur, serta tidak mengorbankan prinsip demi keuntungan sesaat. Pemimpin yang mampu memadukan kecerdasan berpikir, kepatuhan terhadap hukum, nilai-nilai agama, dan keteguhan moral diharapkan dapat menghadirkan kebijakan yang lebih adil dan bermanfaat bagi masyarakat.

 

Nasihat “Ojo gumunan, ojo gampang kepincut”* pada akhirnya bukan hanya pesan untuk dikenang, melainkan alarm moral yang harus terus berbunyi di setiap ruang pengambilan keputusan.

 

—

 

Penulis: Moh. Aslim Akmal

Pegiat Sejarah dan Budaya Kudus Kulon

Tinggal di Kudus | 21 Oktober 2026